Tampilkan postingan dengan label Bab 1. Tampilkan semua postingan
Sebagian besar mesin /
komputer Server di Internet akan dikenali mengunakan nama domain.
- www.google.com – Mesin pencari Google.
- www.yahoo.com – mesin pencari Yahoo.
- www.ipl.org – Internet Public Library di Internet.
- www.plasa.com – Plasa milik Telkom.
- www.diknas.go.id – situs milik Departemen Pendidikan Nasional.
- www.ristek.go.id – situs milik Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi.
- www.presidenri.go.id – situs milik Bapak Presiden Republik Indonesia.
Jika kita perhatikan baik-baik
maka penamaan sebuah mesin mempunyai struktur tertentu. Mari kita lihat situs
milik Bapak Presiden Republik Indonesia, nama yang digunakan adalah www.presidenri.go.id
Beberapa informasi yang dapat di peroleh
dari nama tersebut adalah:
- id: ID adalah Indonesia di Internet. ID biasanya di sebut Top Level Domain (TLD). Top Level Domain dapat mengindentifikasikan negara dimana mesin tersebut terdaftar.
- go: GO singkatan dari GOvernment. Artinya, situs ini adalah milik pemerintah.
- presidenri: Nama dari institusi atau lembaga yang memiliki situs tersebut. Kebetulan sekali lembaga tersebut adalah Presiden Republik Indonesia yang di singkat presidenri.
WWW atau World Wide Web.
Memberitahukan bahwa mesin ini adalah sebuah server Web yang membawa banyak
informasi untuk masyarakat di Internet. Di dunia Internet terdapat beberapa Top
Level Domain (TLD) yang sifatnya global. Ada banyak sekali Top Level Domain,
beberapa yang sangat umum digunakan adalah:
- .com - untuk lembaga komersial
- .org - untuk organisasi biasanya tidak komersial
- .gov - untuk pemerintah Amerika Serikat
- .edu - untuk universitas
Kita juga mengenal beberapa
Top Level Domain (TLD) negara, seperti:
- .id – Indonesia
- .sg – Singapura
- .jp – Jepang
- .au – Australia.
Di Indonesia kita mengenal
beberapa sub-domain untuk berbagai institusi, seperti:
- .co.id - lembaga komersial.
- .net.id - Internet Service Provider (ISP)
- .ac.id – universitas
- .sch.id – sekolah
- .or.id - lembaga non-komersial.
- .web.id - situs pribadi.
Ada beberapa pola dasar
pengalamatan di Internet, yaitu untuk keperluan Web dan e-mail atau telepon
Internet. Untuk keperluan Web, alamat Internet sering disebut URL (Uniform
Resource Locator) dan biasanya ditulis dalam susunan:
protokol://domain/direktori/file
Contoh URL:
http://rizkyhanggono.blogdetik.com/2008/09/04/jadi-artis-itugak-enak/
dimana, Protokol – menentukan tata cara komunikasi yang digunakan. Protokol
yang sering digunakan adalah http, https, ftp. Domain – merupakan nama
server/komputer yang menyediakan layanan. Direktori – merupakan folder tempat
penyimpanan informasi. File – file yang disimpan (kadang tidak perlu
dituliskan). Untuk keperluan surat elektronik (e-mail) atau telepon di atas
Internet, alamat biasanya ditulis menggunakan format:
namapengguna@nama.mesin.di.internet
Contohnya:
Contoh tersebut dibaca sebagai
pengguna 20281 di mesin voiprakyat.or.id, di mana nama.mesin.di.internet
menggunakan pola penamaan mesin menggunakan teknik domain, sama dengan di Web.
Indonesia dikenali di Internet
dengan Top Level Domain (TLD) .id, seperti www.ristek.go.id untuk kantor
Menteri Negara Riset dan Teknologi. Memang tidak ada keharusan bagi semua mesin
di Indonesia untuk menggunakan TLD-ID (.id) sebagai nama mesin yang digunakan.
Banyak juga yang menggunakan .com seperti detik.com dan kompas.com.
Pengelola Domain Tingkat
Tertinggi (DTT)-ID secara tidak resmi telah lama dimanfaatkan oleh Pusat Ilmu
Komputer Universitas Indonesia (PUSILKOM UI) dalam perangkat lunak pendukung
UUCP, yaitu pathalias dan uumap. Menurut mantan postmaster mesin indogtw.uucp,
Partono Rudiarto (Didik), DTT-ID telah digunakan sejak akhir tahun 1980-an.
Tentu saja, yang dapat menginterpretasikan domain seperti indogtw.ui.ac.id pada
saat itu hanyalah komputer yang menjalankan program pathalias pada program
smail atau sendmailnya. Keluhan pun banyak muncul, mengingat sebagian besar
masyarakat Internet tidak dapat memberikan reply pada e-mail yang berasal dari
Indonesia melalui simpul indogtw.uucp.
Desakan pun muncul agar DTT-ID
didaftarkan secara resmi. Sejak tahun 1988, UI berupaya mencari penyelesaian
pengurusan DTT-ID tersebut, dengan mendekati beberapa institusi seperti Ditjen
POSTEL, P.T. Indosat, Perumtel (kini P.T. Telkom), P.T. Lintasarta, dan
lain-lain. Sayang sekali, pada saat itu, pengetahuan dan minat institusi
tersebut terhadap internet sangat minim. Hingga awal tahun 1993, Universitas
Indonesia (UI) tetap menunjukan keberatannya untuk menindaklanjuti pendaftaran
DTT-ID tersebut karena alasan teknis maupun karena tidak ingin direpotkan
secara administratif.
Titik terang terjadi setelah
terbentuknya sebuah kelompok kerja informal yang bertemu di UI (Depok) pada
tanggal 8 Mei 1992. Hadir pada pertemuan kelompok yang kemudian lebih dikenal
dengan nama Paguyuban ini ialah wakil-wakil dari BPPT, LAPAN, STT Telkom, dan
UI. Hasil langsung dari pertemuan Paguyuban tersebut ialah dibukanya:
link UUCP antara BPPT dan UI (Depok) link radio
407 MHz antara UI (Depok) dan LAPAN (Rancabungur - Bogor), serta kemudian
disambung link radio 139 MHz antara LAPAN
(Rancabungur) dan ITB. Paguyuban dapat dikatakan
menjadi perintis kerjasama jaringan komputer antar institusi di Indonesia.
Salah satu faktor pendukung suksesnya Paguyuban ini ialah dukungan teknis jarak
jauh dari sebuah mailing-list (milis) bernama PAU-MIKRO pada alamat
pau-mikro@ee.umanitoba.ca. Pada awalnya, milis ini merupakan wahana komunikasi
para staf PAU Mikro Elektornika ITB yang sedang tugas belajar di luar negeri.
Namun, kemudian berkembang menjadi forum diskusi teknis terbuka, hingga dapat
dikatakan pada saat tersebut telah menjadi aset nasional.
Pembukaan link tersebut di
atas menyebabkan peningkatan penggunaan DTT-ID beserta DTD tidak resminya.
Desakan untuk mendaftarkan DTTID secara formal pun meningkat, menyebabkan UI
memberanikan diri mendaftarkan DTT-ID melalui bantuan UUNET di USA. Walaupun
DTTID sudah terdaftar sejak 27 Februari 1993, berita tersebut baru tersampaikan
UUNET (Kyle Jones) pada tanggal 4 Maret 1993. Orang yang menjadi penanggung
jawab pertama domain .id di Indonesia adalah Rahmat M. Samik-Ibrahim dari UI.
Beberapa orang dan organisasi
yang sempat bertanggung jawab sebagai Top Level Domain (.id) di Indonesia
adalah:
- Rahmat M. Samik Ibrahim (Universitas Indonesia) 1993-1998.
- Budi Raharjo (IDNIC http://www.idnic.net.id) 1998-2005
- DEPKOMINFO 2005 selama beberapa bulan
- PANDI (http://www.pandi.or.id) 2005 sampai sekarang
ISP pertama di Indonesia adalah IPTEKNET
(http://www.iptek.net.id/) yang beroperasi penuh menjelang awal 1994. Pada
tahun yang sama P.T. IndoInternet (http://www.indo.net.id/) atau IndoNet yang
dipimpin secara part-time oleh Sanjaya mulai beroperasi. IndoNet merupakan ISP
komersial pertama Indonesia yang pada awalnya memanfaatkan lisensi dari P.T.
Lintas Arta.
Sambungan awal ke Internet oleh
IndoNet dilakukan menggunakan metode dial-up. IndoNet berlokasi di di daerah
Rawamangun, Jakarta, di kompleks dosen UI. ISP yang tidak lama menyusul IndoNET
adalah RadNet (http://www.rad.net.id/).
jaringan Internet di Indonesia
pada bulan November 1994. Sebagian besar sambungan masih menggunakan teknologi
radio paket pada kecepatan 1,2 Kbps (1200 bps). Banyak sambungan, terutama yang
berlokasi di Bandung, tersambung menggunakan walkie talkie pada band 2 meter
atau frekuensi sekitar 144-148MHz milik Amatir Radio. Teknik ini yang kemudian
hari berkembang menjadi Internet menggunakan radio.
Berbicara dan berdiskusi antar pengguna merupakan
kunci mengapa Internet menjadi sedemikian berhasil. Salah satu media yang
paling sederhana untuk melakukan diskusi adalah e-mail dengan menggunakan
sebuah server mailing list yang dapat menampung ribuan orang dalam berdiskusi
melalui
e-mail sekaligus.
Pada tahun 1987-1988, sekitar
lebih dari dua puluh (20) tahun lalu, ketika Internet masih belum berkembang
seperti sekarang ini, sekelompok kecil mahasiswa Indonesia di Berkeley, Amerika
Serikat membentuk mailing list Indonesia yang pertama dengan alamat e-mail
indonesians@janus.
berkeley.edu. Persatuan komunitas pelajar dan
mahasiswa Indonesia di luar negeri terbentuk dengan adanya fasilitas diskusi
maya ini. Indonesians@janus.berkeley.edu barangkali tercatat sebagai asal
muasal mailing list bangsa Indonesia di Internet.
Mailing list Indonesia mulai
berkembang, dari tema-tema keagamaan, hingga tema umum dan sangat teknis
tentang teknologi komputer maupun keilmuan lainnya, seperti,
1. pau-mikro@ee.umanitoba.ca – yang di kemudian
hari menjadi mailing
list awal para hacker Indonesia.
2. ids@listserv.syr.edu - jaringan kajian
pembangunan Indonesia,
Dengan adanya Internet di
Indonesia pada tahun 1993-1994 dan kepulangan para mahasiswa yang belajar di
luar negeri ke Indonesia, mailing list Indonesia secara bertahap terbentuk di
Indonesia. Dua (2) buah komputer Pentium II di Institut Teknologi Bandung (ITB)
yang merupakan sumbangan Alumni Institut Teknologi Bandung telah menyumbangkan
banyak jasanya untuk pembentukan awal komunitas maya Indonesia sehingga
jumlahnya mencapai ratusan mailing list. Beberapa mailing list yang bertahan di
ITB sampai hari ini adalah itb@itb.ac.id dan dosen@itb.ac.id.
Sebagian besar mailing list di
atas telah menjadi sejarah. Keberadaan dan arsip banyak mailing list Indonesia
di masa lalu dulu dapat dilihat di http://www.umanitoba.ca/indonesian/milis.html
atau http://www.airland.com/id/komputer/milis.html. Pada hari ini, forum
komunitas maya Indonesia lebih banyak bertumpu pada fasilitas gratis yang di
berikan oleh yahoogroups.com yang dapat diakses di http://groups.yahoo.com dan
Google pada mesin http://groups.google.com. Di Indonesia jasa diskusi mailing
list gratis dilakukan oleh mesin http://groups.or.id yang diletakan di Internet
Service Provider CBN.
Sejarah internet Indonesia bermula pada awal
tahun 1990-an. Saat itu, jaringan Internet di Indonesia lebih dikenal sebagai
Paguyuban Network. M.Samik-Ibrahim, Suryono Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby
Soebiakto,Putu, Firman Siregar, Adi Indrayanto, Onno W. Purbo adalah sejumlah
nama legendaris di awal pembangunan Internet Indonesia (tahun 1992 hingga
1994). Masing-masing telah menyumbangkan keahlian dan dedikasinya
dalammembangun fondasi jaringan komputer dan Internet di Indonesia.
Tulisan-tulisan awal mengenai
Internet di Indonesia terinspirasi oleh kegiatan amatir radio pada tahun 1986,
khususnya di Amatir Radio Club (ARC) ITB. Bermodal pesawat radio pemancar
Single Side Band (SSB) Amatir Radio Kenwood TS430 milik Harya Sudirapratama
(YC1HCE) dan komputer Apple II milik Onno W. Purbo (YC1DAV), belasan anak muda
ITB seperti Harya Sudirapratama (YC1HCE), J. Tjandra Pramudito (YB3NR), dan
Suryono Adisoemarta (N5SNN) berguru pada para senior amatir radio seperti Robby
Soebiakto (YB1BG), almarhum Achmad Zaini (YB1HR), Yos (YB2SV) melalui band
amatir radio 40 m atau 7 MHz. Mereka mulai mendiskusikan teknik membangun
jaringan komputer dengan radio menggunakan teknologi radio paket.
Robby Soebiakto yang waktu itu
bekerja di PT. USI IBM Jakarta merupakan pakar di antara para amatir radio di
Indonesia, khususnya di bidang komunikasi data packet switching melalui radio
yang dikenal sebagai radio paket. Teknologi radio paket TCP/IP untuk Internet
kemudian diadopsi oleh rekan-rekan Robby Soebiakto di BPPT, LAPAN, UI, dan ITB
yang kemudian menjadi tumpuan PaguyubanNet antara tahun 1992-1994.
Pada tahun 1988, melalui surat
pribadi, Robby Soebiakto mendorong Onno W. Purbo yang saat itu berada di
Hamilton, Ontario, Kanada untuk mendalami teknik jaringan Internet berbasis
protokol TCP/IP. Robby Soebiakto meyakinkan Onno W. Purbo bahwa masa depan
teknologi jaringan komputer di dunia akan berbasis pada protokol TCP/IP. Hal
ini yang di kemudian hari memicu penulisan buku-buku jaringan komputer Internet
berbasis TCP/IP oleh Onno W. Purbo maupun rekan-rekan penulis lainnya di
Indonesia untuk memandaikan rakyat Indonesia akan teknologi Internet.
Robby Soebiakto juga menjadi
koordinator alamat IP pertama dari AMPR-net (Amatir Packet Radio Network) yang
di Internet dikenal dengan domain AMPR.ORG dan IP 44.132. AMPR-net Indonesia
kemudian dikoordinir oleh Onno W. Purbo sejak tahun 2000. Salah satu aktivitas
AMPR-net adalah
mengkoordinasi aktifitas anggota ORARI melalui
mailing list ORARI, orarinews@yahoogroups.com.
Pada
awal perkembangan jaringan paket radio di Indonesia, Robby Soebiakto merupakan
pionir di kalangan pelaku amatir radio Indonesia yang mengaitkan jaringan
amatir Bulletin Board System (BBS). BBS merupakan jaringan surat elektronik
(e-mail) yang merelai e-mail untuk dikirim melalui server/komputer BBS yang
mengkaitkan banyak ”server” BBS amatir radio seluruh dunia agar e-mail dapat
berjalan dengan lancar.
Komunikasi
antara Onno W. Purbo yang waktu itu berada di Kanada dengan rekan-rekan amatir
radio di Indonesia terus berlanjut hingga awal 1990-an. Dengan peralatan
komputer PC/XT kompatibel dan walkie talkie 2 meteran, komunikasi antara
Indonesia-Kanada dilakukan melalui jaringan
amatir radio. Robby
Soebiakto berhasil membangun gateway amatir satelit di rumahnya di kawasan
Cinere. Dengan bantuan satelit-satelit OSCAR milik amatir radio, komunikasi
lebih antara Indonesia-Kanada berjalan semakin cepat. Pengetahuan secara
perlahan ditransfer dan berkembang melalui jaringan amatir radio ini.
Pada
tahun 1992-1993, Muhammad Ihsan, seorang peneliti di LAPAN Ranca Bungur yang
pada tahun 1990-an bersama dengan pimpinannya Ibu Adrianti menjalin kerjasama
dengan DLR (Lembaga Penelitian Antariksa Jerman) mencoba mengembangkan jaringan
komputer menggunakan teknologi
radio paket pada band
70 cm dan 2 m. Di kemudian hari, Muhammad Ihsan menjadi motor penggerak di
LAPAN untuk membangun dan mengoperasikan satelit buatan LAPAN Indonesia yang
dikenal sebagai LAPAN TUBSAT maupun INASAT.
Jaringan
LAPAN dikenal sebagai JASIPAKTA dan didukung oleh DLR. Muhammad Ihsan
mengoperasikan relai penghubung antara ITB Bandung dengan gateway Internet yang
ada di BPPT. Di BPPT, Firman Siregar mengoperasikan gateway radio paket yang
bekerja pada band 70 cm. Komputer PC 386 sederhana yang menjalankan program NOS
di atas sistem operasi DOS digunakan sebagai gateway packet radio TCP/IP.
IPTEKNET masih berada di tahapan sangat awal perkembangannya.
Tanggal
7 Juni 1994, Randy Bush dari Portland, Oregon, Amerika Serikat melakukan ping
ke IPTEKNET dan kemudian melaporkan hasilnya kepada rekan-rekannya di Natonal
Science Foundation (NSF) Amerika Serikat. Dalam laporan Randy Bush tertera
waktu yang dibutuhkan untuk ping pertama dari Indonesia ke Amerika Serikat,
yaitu sekitar 750 mili detik melalui jaringan leased line yang berkecepatan 64
Kbps.
Nama lain yang tidak kalah
berjasa adalah Pak Putu. Beliau mengembangkan PUSDATA DEPRIN pada masa
kepemimpinan Menteri Perindustrian Tungki Ariwibowo sekaligus menjalankan BBS
pusdata.dprin.go.id. Di masa awal perkembangan BBS, Pak Putu berjasa
mempopulerkan penggunaan e-mail, khususnya di Jakarta. Aktivitas Pak Putu
banyak didukung oleh Menteri Perindustrian Tungki Ariwibowo yang sangat
menyukai komputer dan Internet. Pak Tungki adalah menteri pertama Indonesia
yang menjawab e-mail sendiri.
Pada akhir tahun 1992, Suryono
Adisoemarta kembali ke Indonesia. Kesempatan tersebut tidak dilewatkan oleh
anggota Amatir Radio Club (ARC) ITB seperti Basuki Suhardiman, Aulia K. Arief,
Arman Hazairin yang didukung oleh Adi Indrayanto untuk mencoba mengembangkan
gateway radio paket di ITB. Seperti tampak pada Gambar 1.1, gateway tersebut
menggunakan sebuah komputer 286 bekas, perhatikan baik-baik disket-nya yang
berukuran besar. Pada hari ini, disket jenis tersebut sudah tidak di produksi
lagi. ITB akhirnya turut berkiprah di jaringan PaguyubanNet. Institusi lain
seperti UI, BPPT, LAPAN, PUSDATA DEPRIN yang lebih dahulu terhubung ke jaringan
Internet mempunyai fasilitas yang jauh lebih baik daripada ITB. Di ITB, modem
radio paket berupa Terminal Node Controller (TNC) merupakan peralatan pinjaman
dari Muhammad Ihsan dari LAPAN.
Ketika masih menempuh studi di
University of Texas di Austin, Texas, Suryono Adisoemarta menyambungkan TCP/IP
Amatir Radio Austin ke gateway Internet untuk pertama kalinya di gedung Chemical
and Petroleum Engineering University of Texas, Amerika Serikat. Sejak saat itu,
komunitas Amatir Radio TCP/IP Austin Texas tersambung ke jaringan TCP/IP di
seluruh dunia. Pengetahuan inilah yang kemudian diterapkan Suryono Adisoemarta
saat mengembangkan radio paket di ITB. Suryono Adisoemarta yang kemudian hari
menyandang nama panggilan YD0NXX menjadi motor penggerak teknologi satelit
Amatir Radio maupun teknologi Amateur Packet
Reporting System (APRS) yang memungkinkan kita
untuk melihat posisi-posisi stasiun amatir radio di peta di Internet yang dapat
dilihat di situs http://aprs.fi.
Berawal dari teknologi radio
paket kecepatan rendah 1200 bps, ITB kemudian memperoleh sambungan 24 jam 14.4
Kbps ke RISTI Telkom sebagai bagian dari IPTEKNET pada tahun 1995. Akses
Internet tetap diberikan secara cuma-cuma kepada rekan-rekan yang lainnya
khususnya di PaguyubanNet.
September 1996 merupakan tahun
peralihan bagi ITB, karena keterkaitan ITB dengan jaringan penelitian Asia
Internet Interconnection Initiatives (AI3) sehingga memperoleh bandwidth 1.5M
bps ke Jepang yang terus ditambah dengan sambungan ke TelkomNet& IIX
sebesar 2 Mbps. ITB akhirnya menjadi salah satu bagian terpenting dalam
jaringan pendidikan di Indonesia yang menamakan dirinya AI3 Indonesia yang
mengkaitkan lebih dari 25 lembaga pendidikan di Indonesia di tahun 1997-1998.
Jaringan pendidikan menjadi
lebih marak pada saat naskah buku ini di tulis di tahun 2009, dengan adanya
JARDIKNAS dan INHEREN yang dioperasikan oleh DIKNAS dan mengkaitkan sekitar
15.000 lebih sekolah Indonesia ke Internet yang akan menjadi media untuk
mencerdaskan bangsa Indonesia agar dapat berkompetisi di era globalisasi
mendatang.
Pada tahun 1969, Robert Taylor yang baru dipromosikan sebagai kepala kantor pemrosesan informasi di DARPA (Badan Riset Angkatan Bersenjata Amerika Serikat) bermaksud mengimplementaskan ide untuk membuat sistem jaringan yang saling terhubung. Bersama Larry Robert dari MIT, Robert Taylor memulai proyek yang kemudian dikenal sebagai ARPANET. Sambungan pertama ARPANET terbentuk antara University of California, Los Angeles (UCLA) dan Stanford Research Institute (SRI) pada jam 22:30 tanggal 29 Oktober 1969. Pada tanggal 5 Desember 1969, ada dua jaringan lagi yang bergabung, yakni University of Utah dan University of California, Santa Barbara sehingga total terdapat empat (4) simpul jaringan. ARPANET yang berbasis pada teknologi ALOHAnet berkembang sangat cepat. Pada tahun 1981, jumlah simpul yang tersambung menjadi 213.
Selain jaringan untuk penelitian seperti ARPANET dan X.25, para penggemar komputer juga mengembangkan teknik jaringan sendiri yang kemudian cukup populer, yaitu UUCP. Masalah terbesar pada teknik ini adalah bagaimana supaya berbagai jenis peralatan jaringan, seperti telepon, radio, kabel jaringan lokal LAN yang secara fisik sangat berbeda dapat berkomunikasi satu sama lain. Keberagaman media fisik jaringan mendorong pengembangan tatacara komunikasi (protokol komunikasi) yang mampu melakukan internetworking, sehingga banyak jaringan kecil dapat saling tersambung menjadi satu menjadi jaringan komputer maha besar.
Kumpulan tata cara komunikasi atau protokol Internet memungkinkan jaringan komputer dibangun menggunakan saluran fisik yang berbeda. Dalam bahasa yang sederhana, komputer yang terhubung menggunakan telepon, dapat berkomunikasi dengan komputer yang tersambung ke jaringan LAN maupun jaringan radio. Hal ini mendorong terjadinya inter-network (antar jaringan) secara global yang kemudian hari kita kenal sebagai “Internet”.
Komersialisasi dan privatisasi Internet mulai terjadi pada tahun 1980-an di Amerika Serikat dengan di ijinkannya Internet Service Provider (ISP) untuk beroperasi. Internet mulai booming pada tahun 1990-an. dan menjadi kunci pemicu perubahan dalam budaya dan dunia usaha. Internet menawarkan pola komunikasi cepat menggunakan e-mail, diskusi bebas di forum, dan Web.